Karantina Di Bandung

4 min read

Hai para pembaca setia Suka Dunia, semoga tidak bosan dengan postingan saya yang gitu-gitu aja. Kali ini saya membuat postingan terbaru. Sebenarnya sih, ini gak pengen di buat, cuman karena ada tugas dari akademi ya mau gimana lagi. hehehe..

Untuk membuat postingan ini butuh proses yang panjang. Mulai dari kurang enak badan, kurang memaksimalkan waktu. Yah begitulah saya, manusia biasa seperti pada umumnya yang tak mampu melawan rasa sakit yang mendalam. Hehehe bercanda kok 🙂 .

Yuks langsung aja baca postingannya.

Re-sign Kerja

Sekitar hampir 6 bulan lebih saya bekerja di sebuah kantor yang ada di pondok pesantren. Awal mula saya bekerja di kantor tersebut masih lancer-lancar saja. Tapi ketika di akhir bulan keempat saya merasa tidak cocok lagi bekerja di tempat terssebut.

Sempat berunding dengan orang tua, dan mereka mengatakan untuk bersabar. Karena semua pekerjaan dimanapun itu sama saja. Dan karena itu saya masih melanjutkan demi belajar dan saya harus bisa bersabar lagi. Apalagi saya belum tahu mau kemana jika keluar dari tempat tersebut.

Hari demi hari saya lewati seperti buasanya, namun saya merasakan kurang fokusnya saya dalam bekerja. Benar saja kala itu atasan menegur saya karena hasil kinerja saya yang menurun. Kemudian atasan saya menyarankan untuk memeriksa kesehatan saya di Puskesmas.

Memang sering kali saya merasakan pusing yang sangat menyiksa. Tapi saya menganggapnya seperti biasa saja. Lalu saya mencoba datang ke dokter untuk mengetes kesehatan saya. Dan hasilnya sangat mengejutkan. Kesehatan mata saya yang menurun secara drastis.

Awalnya saya masih bertahan hingga 2 bulan setelah mendengar kesehatan saya yang menurun. Tapi entah mengapa saya merasakan lelah yang sangat luar biasa. Setelah itu barulah saya menceritakan kondisi sebenarnya kepada orang tua. Mereka sontak kaget.

Mereka pun menyarankan saya untuk re-sign atau mengundurkan diri dari pekerjaan saya. Dan saya sempat menolak dan minta waktu untuk merenung. Sekitar 2 minggu saya merenungkannya. Sampai akhirnya saya menurut kepada orang tua saja daripada harus meneruskan pekerjaan saya.

Sebelum re-sign saya sempat berpikir bagaimana saya bicara dengan atasan. Dan saya kemudian meminta saran kepada rekan kerja saya yang sudah lama bekerja di tempat itu. Dia menyarankan untuk beres-beres berkas dan barang saya yang ada di kantor, kemudian barulah bicara dengan atasan.

Keesokan harinya saya mengikuti seperti apa yang dikatakan rekan kerja saya. Kemudian saya mencoba memberanikan diri untuk berbicara dengan atasan dimana saya ingin re-sign atau keluar dari tempat tersebut. Dengan rasa ragu saya memberanikan diri berbicara dengan atasan.

Setelah saya menjelaskan detai pada atasan bahwa saya akan mengundurkan diri dengan alasan kondisi kesehatan saya yang menurun. Dan juga orang tua saya yang menyuruh saya keluar dari tempat tersebut. Namun atasan saya agak kecewa dengan keputusan tapi akhirnya dia mengiyakan.

Jadi Pengangguran

Setelah re-sign dari tempat kerja, saya pun harus segera meninggalkan Ibukota Jakarta. Karena saya tinggal di Jawa Tengah yang lumayan cukup jauh. Pulang kampung belum pada waktunya (hehehe). Ada rasa sedih karena harus meninggalkan rekan-rekan kerja saya yang sudah baik membantu saya saat ada kesulitan. 🙁

Serta saya harus meninggalkan kota yang memiliki banyak kenangan dan teman-teman yang baru saya kenal disana. Bahkan ada yang sampai menawarkan tempat tiggal dan pekerjaan sementara untuk mengganti tempat sebelumnya. Tapi karena orang tua yang menyuruh saya untuk pulang kampung ya mau bagaimana lagi.

Menggunakan Kereta Api Indonesia (KAI) saya menuju ke kampung halaman saya. Dengan menempuh waktu sekitar 5 jam lebih saya berangkat dari Jakarta ke kampung saya. Waktu yang sangat singkat itu saya gunakan untuk merenung. Bagaimana kelanjutan dari kehidupan saya.

Rasanya seperti meja belajar yang tidak tertata rapi, semuanya berantakan. Dengan ini saya menyatakan diri saya menjadi seorang pengangguran. Lucu sekali sih, tapi ya mau bagaimana lagi saya tidak bisa melawan kehendak orang tua. Karena ridho mereka adalah ridho-Nya juga.

Ikut Program 1 Bulan Karantina Qur’an

Muslim man studying The Quran

Hampir selama 3 bulan saya menganggur. Bukan berarti saya tidak ada aktifitas sama sekali. Walau hanya sekedar membantu pekerjaan rumah dan juga baca-baca materi tertentu.Seperti botol yang terisi penuh yang kemudian di tusuk dengan jarum di bawahnya dan kemudian isi botol tersebut habis perlahan.

Lama-kelamaan saya merasa semakin down. Tidak ada harapan ataupun kesempatan kedua yang bisa saya dapatkan. Dan mulailah sedikit frustasi dan emosi yang tidak terkontrol. Awal mula gagal dalam studi di Unversitas dan kemudian gagal dalam pekerjaan.

Selalu ada pertanyaan dalam diri saya, apakah saya harus terus seperti ini. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi dan apakah harus berhenti seperti ini. Akhirnya saya curhat dengan ibu saya. Karena beliaulah orang yang selalu peduli dan perhatian lebih dari ayah, walaupun mereka benar-benar sayang terhadap anak-anaknya.

Kemudian ibu menyarankan saya untuk mencari sebuah pelatihan apapun yang masih ada saat itu. Yang penting saya harus memiliki motivasi untuk bangkit dari kondisi saat ini. Dengan mengikuti suatu pelatihan saya bisa mendapatkan suatu ilmu yang mampu meningkatkan semangat dalam diri saya.

Setelah mendapat saran dari ibu, saya pun mencoba mencari sebuah pelatihan yang ada pada waktu itu. Dan akhirnya saya menemukan sebuah pelatihan atau lebih tepatnya sebuah karantina Al-Qur’an yang memiliki 3 macam jenis. Yang pertama yaitu 30 hari, 7 hari dan 3 hari.

Setelah mendapatkan informasi tersebut saya meminta saran kembali kepada kedua orang tua saya. Lalu mereka mengiyakan dan juga mendukung sepenuhnya untuk mengikuti karantina tersebut. Dan kemudian saya memutuskan untuk memilih yang 30 hari.

Pertama Kali Tinggal Di Bandung

Kemudian saya mendaftarkan diri ke karantina tersebut. Ada tahapan yang harus saya ikuti yaitu sebagai berikut :

  • Mendaftar via website
  • Kirim Biodata
  • Wawancara
  • Tes bacaan Al-Qur’an
  • Tes menghafal 1 halaman

Dan yang terakhir saya disuruh untuk menunggu selama 1 pekan lamanya. Barulah akan diumumkan melalui email atau pesan ke masing-masing pendaftar.

Setelah menunggu selama 1 pekan, akhirnya ada pengumuman dan saya dinyatakan lolos seleksi. Kemudian setelah diterima ada yang harus saya bayarkan untuk biaya karantina tersebut. Sekitar 1 juta lebih yang harus saya lunasi karena saya memilih yang 30 hari.

Setelah selesai menyelesaikan administrasi karantina tersebut, berankatlah saya ke tempat karantina tersebut. Karantina tersebut berada di kota Bandung. Kota yang sangat bersih dan sejuk karena warganya yang sangat patuh dan peduli kepada kebersihan.

Singkat cerita sampailah saya di Bandung dan langsung saya pun langsung menuju tempat karantina tersebut. Sesampainya saya di sana, bertemulah saya dengan panitia dari program karantira tersebut. Dan saya dipersilahkan untuk beristirahat di dalam Asrama.

Dan mulai saat itu saya merasakan tinggal di Kota Bandung untuk pertama kalinya. Sejuk, bersih dari polusi (walaupun masih ada sedikit) dan orang-orangnya yang ramah serta baik hati. Ini pendapat saya ketika saya sampai di sana dan tinggal untuk sementara.

Dapat Ilmu Menghafal

Inti dari karantina selama 30 hari atau 1 bulan lamanya adalah ilmunya. Ilmu yang saya dapat sangatlah banyak. Dari belajar menata waktu, peduli sesame, sangat berharganya waktu kita di dunia. Dan yang paling utama adalah cara menghafal ayat-ayat Al-Quran.

Bagaiman caranya kita bisa menghafal cepat dan tidak mudah lupa. Yaitu dengan cara mendekati dan mencitai Al-Quran karena Allah SWT. Semakin dekat dengan kita dengan pencipta maka akan di mudahlan segala urusannya apapun itu. Itu pasti karena Allah yang maha esa yang menjamin.

 

Pengalaman singkat ini semoga bermanfaat bagi yang membaca. Cukup sekian dan terimakasih. ^^

Cara Kerja Wifi

IBNU
5 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *